Komunikasi untuk menjadi Eksis

Nama  : ILAFI RAHMAD GHOZALI

NIM     : 362012084

 

Arti “ Komunikasi ” sendiri itu adalah proses penyampaian pesan dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Komunikasi dari dulu hingga sekarang terus ber-evolusi menjadi lebih baik lagi, agar kedua pihak atau lebih saling memahami maksud antar pihak. Komunikasi sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya di perusahaan saja, di rumah maupun dimana pun kita berada pasti kita melakukan komunikasi. setiap orang dalam menjalankan kegiatan sehari-hari tentunya menggunakan komunikasi, misalnya, seseorang yg membeli barang akan melakukan proses komunikasi, pembeli menyampaikan keinginan kepada penjual, dan penjual memahasmi maksud/keinginan pembeli, sehingga terjadi transaksi jualbeli.

Komunikasi dari dulu hingga sekarang itu penting sekali karena jika tanpa komunikasi bagaimana caranya kita menyampaikan sesuatu dan tahu apa yang orang lain maksud.

Komunikasi sendiri iru sebagai pembeda antara yang hidup dan yang mati seperti manusia dan alam (pohon, batu, tanah, dll),  komunikasi adalah salah satu metode yang digunakan untuk menyampaikan argument baik dalam bentuk ucapan,tulisan,atau gerakan. jika manusia tidak berkomunikasi, maka tidak ada bedanya dengan barang mati seperti batu, meja, kursi dan lain2. hanya diam dan tidak tau apa yang sedang dia pikirkan, apa yang sudah dia pikirkan, dan apa yang akan dia pikirkan,,karena komunikasi adalah pengungkapan tentang apa yang sudah di fikir, sedang di fikir atau yang akan di fikir.

Sekarang ini komunikasi menjadi sangat penting dalam hubungan social sehingga tujuan yang di capai dapat lebih cepat mengarah, mulai dari percakapan biasa hingga percakapan professional atau bisniman. Orang berkomunikasi untuk menunjukan dirinya eksis. Inilah yang disebut aktualisasi diri atau lebih tepatnya eksistensi diri. Kita dapat memodifikasi frasa filosof Prancis Rene Descartes (1596-1650) yang terkenal itu Cogito Ergo Sum (“saya berpikir, maka saya ada”) menjadi “Saya berbicara, maka saya ada”. Bila kita berdiam diri, orang lain akan memperlakukan kita seolah-olah kita tidak eksis. Namun kita berbicara, kita menyatakan bahwa sebenarnya kita ada.

Fungsi komunikasi sebagai pengenalan diri sering terlihat pada penannya seminar. Meskipun penannya sudah di ingatkan moderator untuk berbicara singkat dan langsung kepokok permasalahan, penanya atau komentator itu sering berbicara panjang lebar, menguliahi hadirin, dengan argumen-argumen yang tidak relavan.eksistensi diri juga sering dinyatakan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam sidang-sidang mereka yang bertele-tele, karena mereka merasa dirinya paling benar dan paling penting, setiap orang ingin berbicara dan didengarkan.

Fenomena itu misalnya pernah muncul dalam sidang-sidang selama berlangsungnya sidang umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bulan Oktober 1999 malalui banjir interupsi dari begitu banyak peserta sidang, khususnya pada 3 hari pertama. Banyak interupsi yang asal-asalan, tidak relavan, kekanak-kanakan, kocak, konyol, menjengkelkan, naif, dan terkadang memuakkan.

Komunikasi yang dimanfaatkan untuk eksis sendiri, telah merambah entertaiment misalnnya dengan membuat keributan/peryataan yang nyeleneh sehingga membuat dirinnya eksis dan terkenal, padahal cara itu bisa membuat masyarakat men-cap orang itu sebagai artis sensaional. Memang sudah banyak hal yang terjadi dalam entertaiment, dan itu menjadi membudaya. Nah, komunikasi memang penting tetapi harus di olah dengan baik dan benar. Jika tidak, secara tidak langsung masyarakat akan mengucilkan.

Your Comments

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s