Komunikasi : Memanusiakan Manusia?

Evelyne Dwinanda P | 362012017

The most important agency through which the child learns to be human is communication, verbal also nonverbal.” – Ashley Montagu

Gambar

Komunikasi merupakan hal yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Setiap hari kita berkomunikasi dengan berbagai cara. Bahkan sesaat setelah dilahirkan, seorang bayi sudah berkomunikasi. Tentunya dalam hal ini, komunikasi yang dilakukan si bayi bersifat nonverbal, melalui tangisan, gerak tubuh serta mimik wajah. Lewat komunikasi nonverbal tersebut, bayi menyampaikan kebutuhan, keinginan, serta mengekspresikan perasaan-perasaan yang dialaminya kepada orang tua atau siapa saja yang ada di sekitarnya.

Melalui komunikasi juga orang tua mengajarkan banyak hal kepada anaknya. Mulai dari bagaimana makan yang benar, bagaimana menerima pemberian orang, bagaimana berbicara dengan sopan, dsb. sehingga dalam perkembangannya seorang anak tahu bagaimana ia harus membawa diri dalam lingkungan sosial. Dalam konteks inilah bisa dikatakan bahwa melalui komunikasi seorang anak ‘belajar menjadi manusia’.

Mengapa dikatakan ‘belajar menjadi manusia’? Karena pada awalnya seorang anak tidak tahu bagaimana berlaku sebagai seorang manusia. Barulah melalui komunikasi dengan orang tua, keluarga maupun lingkungan sekitarnya si anak menjadi tahu bagaimana caranya makan, berbicara, bersikap bahkan merespon tindakan orang lain sebagai manusia. Bisa dibilang dengan berkomunikasi, orang tua mentransformasikan ‘nilai-nilai kemanusiaan’ kepada anaknya.

Jadi, masuk akal jika kemudian ada orang-orang yang berperilaku layaknya hewan. Misalnya seperti Victor Aveyron, manusia liar yang hidup di akhir abad ke-18. Dia makan, minum, dan berperilaku seperti serigala. Itu semua dikarenakan ia tumbuh dan berkembang tanpa adanya komunikasi dengan sesama manusia, sehingga ia pun tidak belajar untuk menjadi manusia. Dan bisa dipastikan ia bahkan tidak pernah menyadari kodratnya sebagai seorang manusia.

Lain lagi kisah tentang Genie, anak perempuan berusia 13 tahun yang sejak kecil hampir tidak pernah mempunyai kesempatan untuk berkomunikasi. Ia dipasung oleh ayahnya, tidak pernah mendengar orang lain berbicara, bahkan ketika kakaknya memberinya makan sekalipun. Ibu dan kakaknya sering mengobrol tapi itupun dengan berbisik-bisik karena takut pada ayahnya. Setiap kali Genie menangis, ayahnya memukulnya. Sampai pada saat ia diselamatkan, ia tidak bisa berbicara, berjalan, mengunyah makanan. Ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Ia hanya bisa terus meludah.

Beberapa uraian di atas menunjukkan betapa pentingnya komunikasi dalam hidup manusia. Komunikasi menimbulkan kesadaran akan eksistensi diri sebagai manusia. Komunikasi juga membangun sifat-sifat ‘kemanusiaan’ dalam diri seseorang, sebagaimana yang diungkapkan oleh Deddy Mulyana (2007:6) bahwa:

Tanpa melibatkan diri dalam komunikasi, seseorang tidak akan tahu bagaimana makan, minum, berbicara sebagai manusia dan memperlakukan manusia lain secara beradab, karena cara-cara berperilaku tersebut harus dipelajari lewat pengasuhan keluarga dan pergaulan dengan orang lain yang intinya adalah komunikasi.

Tanpa adanya komunikasi, manusia tidak akan berkembang menjadi manusia yang seutuhnya.

Sumber :

Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar (ed.rev.). Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ratmanto, Teguh. 2000. Komunikasi dan Praksis Kebebasan. Mediator. 1 (1). 115-122

http://kccesl.tripod.com/genie.html

http://www.parenting.co.id/article/bayi/cara.bayi.berkomunikasi/001/002/52

Your Comments

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s