FASHION SEBAGAI KOMUNIKASI

ASTARIA EKA SANTI /362012051

 

Fashion,…?? Siapa tidak pernah mendengar kata fashion, sebuah kata yang amat familiar diatara kita. Tapi siapa yang menyangka bahwa dalam fashion juga terdapat unsure komunikasi. Dalam fashion kita bias mengartikan komunikasi sebagai pengiriman pesan, budaya beragam juga menjadi factor penentu dalam sebuah fashion. Hal ini sangat jelas dalam masyarakat kita maupun masyarakat di dunia, tidak perlu jauh-jauh  membandingkan budaya dalam fashion. Lihatlah di dalam kampus kita, orang yang berasal dari papua terkadang menggunakan tas yang terbuat dari rajutan hal ini dikarenakan kondisi budaya maupun alam papua yang masih menyediakan bahan-bahan khusus yang berasal dari alam untuk membuat aneka kerajianan tersebut. Ini juga merupakan sebuah factor penentu akan jenis fashion yang ada.

            Fashion sendiri dapat diartikan sebagai komunikasi non-verbal karena tidak menggunakan kata-kata lisan maupun tertulis (Davis,1992:7). Tidak sulit untuk memahami fashion sebagai komunikasi non-verbal, meskipun garmen diungkapkan dalam kata-kata seperti merk maupun slogan, disana tetap saja ada level komunikasi non verbal yang memperkuat makna harfiah slogan atau merek tersebut. Pertanyaaan pasti muncul setelah sebuah pernyataan fashion dan pakaian diartikan sebagai bentuk komunikasi non verbal . Umberto Eco menyatakan “Berbicara melalui pakaianya”, yang dimaksud disini adalah menggunakan pakaian untuk melakukan apa yang dilakukan dengan kata-kata maupun lisan dalam konteks lain. (Eco, 1973:59)

            Pengirim dalam fashion ini adalah sangatlah penting, hal utamanya adalah pesan yang berada diatas segalanya, mesti disusun berdasarkan prinsip bias diperoleh kembali (retrievable) atau bisa ditemukan (discoverable). Pesan yang tak pernah diperoleh bukanlah pesan dan  komunikasi tak bisa berlangsung dalam kondisi seperti itu. Efisiensi atau efektivitas proses transmisi juga penting; bila pesan tak sampai pada penerima atau sampai dalam bentuk yang berbeda atau terdistorsi, maka salah satu bagian dari proses komunikasinya, mungkin mediumnya dipandang mengandung kegagalan. Dan, efek pada penerima sangat penting dalam pandangan mahzab ini karena efek pda penerima itulah yang membentuk interaksi; interaksi social di sini dirumuskan sebagai “ proses yang denganya seorang… memengaruhi perilaku, pikiran atau respon emosional orang lain.” (Fiske, 1990: 2)

            Secara intuitif untuk menyataka bahwa seseorang mengirim pesan tentang dirinya sendiri melalui fashion dan pakaian yang dipakainya. Berdasar pengalam sehari-hari pakaian  dipilih sesuai dengan apa yang akan dikakukan pada hari itu, bagaimana suasana hati seseorang, siapa saja yang akan dietemuinya dan seterusnya, tampaknya hal ini menegaskan bahwa fashion dan pakaian dipergunakan untuk mengirimkan pesan tentang diri seseorang kepada orang lain. Pada model ini terdapat bebrapa masalah yang mengacu pada garmen dan si perancang. Pesan yang ingin di sampingan oleh garmen terkadang berbeda dengan apa yang ingin diungkapkan oleh si perancang.

            Interaksi social dalam hal ini adalah saling mempengaruhi perilaku oleh individu bisa dipahami, hal tersebut beranggapan bahwa individu siap, atau sudah, menjadi anggota masyarakat dari suatu komunitas, sebelum atau diluar saling memengaruhi perilaku. Douglas menunjukan dalam The World of Goods, : “manusia membutuhkan barang-barang untuk berkomunikasi dengan manusia lain dan untuk memahami apa yang terjadi di sekelilingnya. Memang ini kebutuhan. Namun sebenarnya tunggal, yakni untuk berkomunikasi hanya bisa dibentuk dalam system makna yang terstruktur “ (Dougas dan Isherwood, 1979: 95).

            Dia menyatakan, pertama  bahwa fashion dan pakaian bias saja dipergunakan untuk memahami dunia serta benda-benda dan manusia yang ada didalamnya, sehingga fashion  dan pakaian merupakan fenomena komunikatif. Kedua, dia menyatakan bahwa system makna yang terstruktur, yang suatu budaya, memungkinkan individu untuk mengkonstruksi suatu identitas , melalui sarana komunikasi. Kedua model ini melihat komunikasi sebagai pengiriman dan penerimaan pesan. Model semiotika atau strukturalis memahami komunikasi sebagai “produksi dan pertukaran makna” (Fiske, 1990:2)

            Kita bisa mengambil sebuah beberapa teori dalam mengungkapkan fashion sebagai komunikasi. Memahami sesuatu yang bentuknya benda dan bias menghasilkan sebuah komunikasi ini bukanlah hal mudah. Jika kita bisa memahami lebih dari apa yang kita pergunakan sehari-hari maupun waktu tertentu. Fashion adalah diri kita, fashion menjadi penting saat seseorang mengalami krisis rasa percaya diri atas dirinya dan akan sedikit pulih setelah adanya fashion.  Sumber : Barnard, M., Fashion sebagai Komunikasi , Yogyakarta : Jalasutra, 2011.

Your Comments

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s