COMMUNICATION IS THE BRIDGE

Alvanni Kinandhani / 362012053 / Program Studi Ilmu Komunikasi – FISKOM UKSW

 

Ketika awal mula Tuhan menciptakan manusia, Tuhan tidak menciptakan manusia seorang diri. Atas dasar itu manusia punya kebutuhan dan kecenderungan untuk tidak dapat hidup sendiri. Mereka akan lebih merasa aman dan nyaman ketika mereka mempunyai komunitas atau orang – orang yang mendukung, menolong dan ada di samping mereka di setiap waktu. Komunitas dan hubungan saling membutuhkan ini tidak akan berjalan baik tanpa adanya komunikasi. Setiap manusia, besar, kecil, tua, muda mempunyai hasrat akan pemenuhan kebutuhan mereka; dan komunikasi menjadi jembatan bagi manusia untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan dari orang lain.

Komunikasi adalah tentang bagaimana kita saling berbagi dengan orang lain tentang ide, perasaan, keinginan atau kebutuhan kita baik secara verbal maupun non-verbal. Komunikasi adalah hubungan timbal-balik. Karena itu, ada satu unsur yang sangat penting dalam berkomunikasi, yaitu mendengar. Ketika orang-orang terlalu sibuk mengungkapkan dan terlalu banyak berbicara, dibutuhkan orang-orang yang mau mendengar. Ketika ada orang-orang yang ingin dimengerti, haruslah ada orang-orang yang mau mengerti. Ketika ada orang yang ingin dipenuhi kebutuhannya, maka haruslah ada orang yang mau memenuhi kebutuhan orang lain. Komunikasi tidak akan berjalan dengan baik, ketika semua orang berbicara dan tidak ada yang mau mendengar.

Bahasa adalah salah satu unsur yang tidak lepas dari komunikasi. Untuk dapat berkomunikasi – berbagi dan mengerti kebutuhan orang lain – secara verbal, kita membutuhkan bahasa. Dengan adanya bahasa, kita memberi sedikit ruang kepada kesalahpahaman untuk muncul. Karena peran bahasa sangat penting, itulah mengapa sebabnya sejak dari kanak-kanak kita sudah diajar bagaimana caranya berbicara dan menyampaikan sesuatu dengan menggunakan bahasa.

Jika kita pelajari lebih lanjut, komunikasi tidak hanya terjadi melalui bahasa verbal. Sejak seorang bayi masih ada dalam kandungan, dia sudah punya hasrat untuk berkomunikasi dengan menendang rahim ibu. Ketika bayi itu dilahirkan, sekalipun dia belum mengenal bahasa verbal, tetapi bayi pun sudah bisa menyampaikan keinginan mereka melalui tangisan. Inilah salah satu bukti yang menunjukan bahwa berkomunikasi tidak hanya dapat dilakukan melalui bahasa ucapan atau verbal, tetapi juga melalui bahasa tubuh (non verbal). Contoh lain dari bahasa non – verbal adalah yang seringkali kita dengar dengan ‘bahasa mata’. Hanya dengan menatap dan melihat (tanpa ada sepatah kata pun yang terucap) kita dapat mengerti apa yang sesungguhnya diingikan atau dirasakan oleh orang lain (karena mata tidak dapat berdusta) dan dari mata tersirat isi hati manusia. Sekalipun bahasa non-verbal seringkali memunculkan kesalahpahaman, namun ini menjadi satu-satunya jalan penghubung ketika apa yang dirasakan oleh manusia, tidak dapat terucapkan dengan kata-kata atau mungkin akan lebih berarti ketika disampaikan tanpa bahasa verbal.

Dari pemaparan diatas, kita mulai dapat melihat bahwa komunikasi menjadi salah satu unsur penting dalam berhubungan dengan orang lain. Bagaimana orang akan berusaha sedemikian rupa untuk dimengerti dengan bahasa non-verbal jika mereka tidak dimengerti dengan bahasa verbal. Pentingnya komunikasi juga sangat terlihat ketika kita melihat para tuna rungu dan tuna wicara. Mereka adalah manusia yang juga ingin mengerti dan dimengerti sekalipun dengan keterbatasan. Hingga akhirnya terciptalah rangkaian bahasa isyarat – bahasa non verbal – yang kemudian memudahkan mereka untuk berkomunikasi, bukan hanya dengan sesama tuna rungu dan tuna wicara tetapi juga dengan orang normal.

Ketika kita kita ingin mengikat sebuah benda dengan benda yang lain, kita akan membutuhkan seutas tali dan ketika ikatan yang kita buat itu tidak rapi dan kusut, maka benda itu tidak akan dapat terikat dengan baik. Sebagai contoh, sebatang lidi tidak akan dapat berfungsi untuk menyapu, jika kita tidak menyatukannya dengan lidi-lidi yang lain dan mengikatnya dengan seutas tali. Demikian pula halnya dengan komunikasi. Komunikasi adalah tali yang menghubungkan kita dengan orang lain. Ketika ‘tali’ yang menghubungkan kita itu putus atau ‘kusut’, maka tidak akan ada suatu keselarasan di dalam sebuah hubungan. Untuk dapat berfungsi dengan baik di dalam masyarakat, kita membutuhkan ‘tali’ yaitu komunikasi. Karena itu pula, komunikasi menjadi salah satu unsur penting yang tidak dapat di kesampingkan ketika kita berbicara tentang persatuan. Tanpa komunikasi, sebuah tim penyelamatan tidak akan dapat menemukan korban, sebuah keluarga akan hancur, sebuah Negara tidak akan dapat berkembang, sebuah komunitas tidak akan tercipta, dan tidak akan ada tangan-tangan yang bergandengan tangan dan bekerja sama untuk membangun sesuatu.

Pada akhirnya, komunikasi, baik secara verbal maupun non verbal, dapat menyatukan dan menyelaraskan setiap perbedaan. Dan ketika ada keselarasan antara berbicara dan mendengar, maka akan tercipta sebuah komunikasi yang  mempersatukan.

Your Comments

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s