BAGAIMANA ORANGTUA MENGKOMUNIKASIKAN MASALAH SEKSUAL KEPADA REMAJA

Fajar Satrio Wiguno /  362012009 / Fiskom-UKSW

Gambar

Tidak semua orangtua terbuka membicarakan masalah seksual dengan putra-putrinya yang sudah remaja. Mungkin mereka menganggap topik itu masih tabu kalau dibicarakan ke anak remajanya. Mungkin juga mereka berfikir kalau anak-anaknya akan mengetahui lewat sumber lain. Tetapi, sumber lain sering juga keliru. Maka dari itu peran orangtua sangat penting untuk menginformasikannya secara benar. Yang perlu diinformasikan oleh orangtua tidak hanya tentang perkembangan, fungsi, dan cara kerja organ-organ tubuh, tetapi juga sikap, tanggung jawab, etika, dan moralitas mengenai perilaku seksual. Hal kedua inilah yang sangat penting, karena ketidaktahuan tentang hal ini dapat menyebabkan akibat yang jauh lebih rumit.

Lalu, bagaimana orangtua dapat menginformasikannya dengan lancar? Satu-satunya syarat yang diperlukan yakni dalam keluarga harus terbiasa dengan perkomunikasian yang baik. Jika sudah biasa dengan perkomunikasian yang baik, maka topik tentang tumbuh kembang dan seksualitas dapat dikomunikasikan. Karena itu, perlu disarankan kepada para orangtua bahwa untuk dapat membicarakan topik tersebut secara efektif terhadap anak-anak  remajanya, mereka harus pandai berkomunikasi dengan anak-anaknya.

Kekeliruan orangtua: menganggap komunikasi itu mudah dilakukan

Kebanyakan orang berfikir bahwa berkomunikasi itu mudah dilakukan dan bawaan sejak lahir. Maka dari itu mereka merasa tak perlu mempelajarinya lagi dan meningkatkan keterampilan komunikasi mereka dengan orang lain, termasuk anak-anaknya. Untuk mahir berkomunikasi efektif, kita harus memahami prosesnya dan dapat mengaplikasikan pengetahuan tersebut secara kreatif (Kincaid dan Schramm, 1978:2). Atau, komunikasi yang efektif itu komunikan dapat memahami apa yang disampaikan dari sang komunikator. Komunikasi yang efektif menuntut kepekaan dan keterampilan yang hanya dapat kita lakukan sesudah kita memahami proses komunikasi dan kesadaran akan apa yang kita dan orang lain lakukan ketika kita sedang berkomunikasi. Mempelajari komunikasi yang efektif sesungguhnya adalah berupaya memahami apa yang menyebabkan orang lain berperilaku seperti yang ia lakukan (Baird et al., 1973:5). Maka, kemahiran berkomunikasi efektif bukan bawaan tetapi dipelajari.

Orangtua harus mulai berkomunikasi secara efektif dangan anak-anak mereka, bahkan bila perlu sejak anak-anak itu masih di dalam kandungan. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Prenatal di California, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa pengajaran atau pelatihan komunikasi terhadap bayi yang masih dalam kandungan yang dilakukan orangtua melalui megafon (disebut pregafon) menunjukkan bahwa setelah anak-anak itu lahir dan tubuh, mereka mampu berkomunikasi lebih awal, merangkai kata-kata lebih dini, dan memahami sesuatu lebih cepat dibandingkan dengan anak sebayanya yang tak mengikuti “pelatihan” tersebut (Tubbs dan Moss, 1994:5).

Gambar

Pengungkapan-diri

Secara naluriah, anak-anak mempunyai dorongan yang kuat untuk berkomunikasi, dan bisa memahami interaksi dengan orang lain, karena menyadari bahwa komunikasi adalah sarana untuk membangun membangun hubungan. Dengan ini ibu mempunyai peran yang penting untuk mengajari anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Bila orangtua, khususnya para ibu, mampu mengembangkan keterampilan komunikasi mereka dengan anak-anak mereka, sehingga mereka mencapai tingkat pengungkapan-diri (self-disclosure) yang maksimal, tak ada kesulitan bagi kedua belah pihak untuk mengkomunikasikan topik apapun.

Agar terampil berkomunikasi dengan anak, orangtua harus terus meningkatkan pengetahuan mereka yang berkaitan dengan cara bagaimana membina keluarga pada umumnya. Hal ini dapat dilakukan dengan membaca artikel-artikel  yang mengulas masalah tersebut, serta mengikuti kursus-kursus singkat mengenai bidang-bidang tersebut, atau berkonsultasi dengan para ahli.

Dipandang dari sisi remaja sebagai anak, tidak ada resiko mengungkapkan masalah-masalah yang bersifat pribadi dan sensitif kepada orangtua, bahkan sebenarnya malah menyehatkan mental. Sementara pengungkapan-diri yang sama yang sama kepada orang lain (bahkan seorang sahabat) bisa beresiko.

Anak-anak akan menghargai pendapat orang tua mereka bila tumbuh rasa cinta, rasa setia, dan rasa hormat kepada orangtua mereka. Mereka tak akan terlalu menggantungkan pendapat mereka pada teman sebayanya yang belum berpengalaman, atau sumber lain yang terkadang malah menyesatkan. Maka dari itu komunikasi orangtua (terutama ibu) dengan anak-anaknya harus diusahakan intensif dan intim terutama saat mereka masih kecil dan saat remaja.

Perasaan yang harus ditumbuhkan kepada anak, bukan hanya rasa hormat, rasa segan, dan rasa takut kepada orangtua, tetapi juga rasa dekat dan sayang. Hal ini hanya bisa dilakukan apabila orangtua cukup sering berkomunikasi dengan anak-anaknya.

 

 

Sumber: Mulyana, Deddy. Nuansa-nuansa Komunikasi

Your Comments

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s