Yohanes.Saputra / 362012032

 

Komunikasi Efektif Dalam Keluarga

 

Manusia secara kodrati ditakdirkan sebagai mahluk individu sekaligus sebagai mahluk sosial. Manusia sebagai mahluk individu bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri dengan segala keunikan yang dimilikinya. Sementara manusia sebagai mahluk sosial memiliki kebutuhan untuk hidup berkelompok baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas.Dalam proses interaksi sosial diharapkan terjalin hubungan antara satu dengan lainnya yang dapat berjalan secara selaras, serasi, dan seimbang. Kenyataan inilah yang menghambat proses interaksi sosial sehingga muncul adanya masalah yang menyebabkan terjadinya miskomunikasi yang mengarah pada rasa saling curiga dan prasangka yang bahkan mengarah kepada permusuhan dan pertengkaran.Pada hakekatnya permasalahan yang paling mendasar dalam proses interaksi sosial adalah komunikasi. Komunikasi yang lancar dan dapat diterima serta memperoleh tanggapan atau respon yang sesuai dengan tujuannya merupakan dambaan setiap orang. Percekcokan dalam rumah tangga, perselisihan pendapat antara orang tua dengan anak, pertengkaran dengan tetangga, adalah merupakan akibat dari proses komunikasi yang tidak lancar, terhambat, atau bahkan disebabkan tidak adanya komunikasi sama sekali. Oleh karena itu komunikasi merupakan kunci pokok dalam membangun kehidupan rumah tangga maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Pentingnya Komunikasi
Setiap individu yang normal tentu memiliki keinginan untuk mengadakan kontak dengan lingkungannya, khususnya dengan sesama manusia. Dengan kata lain seseorang selalu ingin mengisi waktunya untuk berkomunikasi dengan lingkungannya. Keinginan tersebut timbul karena adanya tiga dorongan dasar yang dibutuhkan oleh individu dalam kehidupan sehari-harinya sebagai manifestasi dari proses aktualisasi diri yaitu :

  1. Kebutuhan akan stimulus atau sensasi (stimulus/sensation hunger).
    Kebutuhan akan sensasi ini menyebabkan seseorang senang menonton film horor meskipun menakutkan.
  2. Kebutuhan akan pengakuan (recognition hunger).
    Seseorang ingin diakui keberadaannya oleh orang lain, kebutuhan tersebut menyebabkan seseorang ingin disapa oleh orang lain.
  3. Kebutuhan akan struktur (Structure hunger).
    Kebutuhan akan struktur ini yang menyebabkan sekelompok orang ingin membentuk organisasi.

Aspek Psikologis dalam Komunikasi
Hal pertama yang diharapkan ada pada diri individu sebelum mengadakan komunikasi dengan orang lain adalah kemauan dan kemampuan untuk menyadari bahwa masing-masing orang memiliki keunikan yang berbeda-beda. Di samping itu ada beberapa aspek psikologis yang perlu dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain yakni:

  1. Perhatian
    Yaitu perlu adanya perhatian pada orang lain ataupun lingkungan sekitar, janganlah bersikap acuh tak acuh terhadap orang lain.
  2. Empati
    Yaitu suatu perasaan yang diikuti pola pikir untuk mengerti orang lain dengan cara memahami suatu masalah berdasarkan pandangan orang lain (tepa salira).
  3. Mendengar secara Aktif
    Usahakanlah memandang wajah pasangan atau menghadap kepada orang yang mengajak berbicara dan janganlah sambil melakukan sesuatu misalnya sambil membaca atau menonton televisi.
  4. Tidak Egosentris
    Yaitu memandang segala sesuatu tidak hanya berdasar keinginan sendiri dan tidak boleh memaksakan kehendak.

Komunikasi yang Efektif
Agar komunikasi dapat berjalan lancar, dapat diterima dan atau memperoleh tanggapan yang positif dari pasangan atau orang lain sesuai dengan tujuan yang harapkan, maka kita harus memilih waktu yang tepat dan jadikan kata “maaf”  dan terimakasih sebagai bunga dalaam kehidupan sehari-hari agar hubungan dalam suatu keluarga akan semakin harmonis.

Cara Berkomunikasi
Menurut Eric Berne, apabila dua orang saling bertemu maka ada enam (6) cara berkomunikasi yang dapat mereka lakukan untuk mengisi waktu. Keenam cara tersebut disusun bertingkat, berdasarkan intensitas hubungan yang mereka lakukan yaitu:

  1. Menarik diri (withdrawl)
    Menarik diri merupakan bentuk komunikasi yang intensitasnya paling rendah, misalnya: dua orang bertemu di kereta api dan tidak saling kenal satu sama lain serta saling diam saja.
  2. Berbasa-basi (ritual)
    Bentuk komunikasi yang intensitasnya sedikit lebih tinggi dari with-drawl adalah basa-basi. Basa-basi merupakan bentuk tingkah laku sosial yang paling aman bagi individu.
  3. Melakukan aktifitas (activity)
    Saling melakukan aktifitas merupakan bentuk komunikasi yang setingkat lebih tinggi intensitasnya dan pada sekedar berbasa-basi.
  4. Mengisi waktu luang (pastime)
    Kualitas pembicaraan dalam mengisi waktu luang lebih tinggi daripada basa-basi.
  5. Permainan (games)
    Dalam permainan ini transaksi terjadi dalam bentuk terselubung, yaitu individu cenderung melakukan sesuatu meskipun sebenarnya ada sesuatu yang lain yang ingin dikerjakannya.
  6. Keakraban (intimacy)
    Keakraban merupakan komunikasi antar individu yang intensitasnya paling tinggi.

Sumber : http://prestasikita.com/index.php?option=com_content&task=view&id=47&Itemid=2

 

 

Your Comments

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s