Teknologi dan Media = Ikan Hiu dan Remora

Jeliana Gabrella Seilatuw/ 362011006/ Progdi Ilmu Komunikasi/ UKSW

Ikan hiu dan ikan remora menjalani hubungan, bukan hubungan biasa. Hubungan saling membutuhkan dan menguntungkan satu sama lain. Ikan remora biasa berenang berdampingan dengan ikan hiu. Predator laut yang tidak bisa membersihkan gigi-gigi pembunuhnya adalah ikan hiu. Disini ikan kecil yang tidak menggugah selera hiu, ikan remora, menawarkan jasa layanan dengan membersihkan gigi hiu itu. Caranya? Si remora ini ditelan hiu agar dia bisa memakan habis sisa-sisa makanan digigi sang hiu. Gigi-gigi sang predator bersih, si remora pun kenyang.

Teknologi dan media juga demikian. Tapi bukan hubungan saling membersihkan gigi.

GambarGambar

Teknologi diibaratkan hiu, sebagai predator peradaban. Seperti pemburu yang mengejar kemajuan sebagai mangsa ditengah tuntutan peradaban yang semakin maju. Lalu media berperan seperti remora sebagai “pembersih” inovasi. Memuluskan inovasi tawaran teknologi sekaligus berperan sebagai penyalur inovasi tersebut dan sebagai alat ukur kemajuan sebagai implikasi dari inovasi yang ditawarkan tersebut. Teknologi dan Media bagai Ikan Hiu dan Ikan Remora.

Jejeran media ternama seperti Kompas, Tribunnews , Tempo, Elshinta, MetroTV, Media Indonesia, Seputar Indonesia dan masih banyak lagi media massa yang mulai memanfaatkan tawaran inovasi internet dari teknologi untuk mengkolaborasikan media lama dengan media baru. Hasil kolaborasi itu yang kita kenal dengan konvergensi media. Media massa memanfaatkan teknologi dengan baik. Kontribusi media untuk teknologi kemudian adalah menjadi barometer kemajuan, apakah konvergensi media lantas menjadi puncak dari revolusi media massa dengan bantuan teknologi komunikasi? Jawabannya, tidak. Karena ternyata teknologi melihat ada ide baru lain yang inovatif. Jejaring sosial.

Para inovator teknologi komunikasi lalu berpikir untuk menciptakan inovasi berbasis teknologi yang mana bisa menghubungkan orang-orang di internet. Lalu muncul komunitas dunia maya. Ada komunitas dunia maya ada media massa didunia maya. Lalu media massa yang terkonvergensi itu kemudian melihat ada peluang disini! Peluang seperti apa? Peluang jualan.

Paling nyata terlihat di Twitter. Banyak akun official dari media-media tersebut. Apa yang mereka lakukan di sosial media kemudian jadi pertanyaan. Apa yang mereka kicaukan disana, jadi pertanyaan susulan. Seperti pernyataan awal, walau banyak dari pengguna media sosial tidak sadar tapi benar adanya bahwa mereka sedang menjual produk mereka di media sosial. Dengan mengkicaukan title produk mereka ditambahkan link yang bisa menghubungkan pengguna twitter yang telah menjadi pengikut akun mereka dengan situs resmi masing-masing media itu. Media massa yang hebat pasti bisa melihat peluang-peluang yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi komunikasi untuk melebarkan sayap mereka agar bisa ikut berkembang seiring tuntutan zaman.

Gambar

Tapi sekalipun simbiosis mutualisme tetap ada kecenderungan satu pihak yang rentan dengan resiko. Disini adalah si remora alias media itu sendiri. Berikut bagannya hubungan simbiosis yang lain.

Gambar

Input teknologi komunikasi awalnya pada media massa adalah inovasi yang ditawarkan berupa internet yang mana internet ini melahirkan konvergensi media yang termediasi oleh computer (Computer Mediated Communication). Lalu muncul inovasi teknologi komunikasi yang lain yakni, media sosial yang kemudian dilirik oleh media massa. Media massa melihat adanya potensi industri pada sosial media, yang lalu input kedua ini melahirkan kepentingan lain yang terlepas dari kepentingan memberikan informasi dan hiburan yakni kepentingan industri. Ternyata kerentanan itu adalah munculnya kepentingan-kepentingan lain dalam menggunakan suatu inovasi, pergeseran nilai-nilai media massa.

Semiocast, lembaga riset media sosial yang berpusat di Paris, mengungkap bahwa pengguna twitter di Indonesia ada di peringkat 5 dunia, juga pengguna tinggi untuk beberapa media sosial ternama lainnya seperti facebook. Berangkat dari fakta bahwa di Indonesia banyak pengguna media sosial dan aktif pula, media-media diatas kemudian tidak melepaskan peluang ini begitu saja untuk melebarkan sayap usaha mereka. Tujuan akhir lalu lebih kepada kepentingan mendapat untung sebanyak-banyaknya.

Sebenarnya sudah terjawab produk apa yang mereka jual di media sosial, yakni konten dari media-media tersebut sendiri. Contoh akun twitter berita seperti Kompas, Tribun dan Tempo yang mengiklankan berita mereka via twitter tak lupa menyertakan link situs resmi mereka. Ini terbukti efektif, seperti berjualan koran di lampu merah dimana banyak calon pembeli lalu-lalang. Jadi konten yang dikicaukan ya, informasi. Tapi jenis kicauannya tetap saja kicauan promo informasi.

Data tambahan :

Top 20 Cities by Number of Posted Tweets

Your Comments

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s