Peran Media Massa Terhadap Selebritis

Steven Joviano (362011088)

Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi

Universitas Kristen Satya Wacana

Suka tidak suka, kehidupan selebritis menjadi keseharian dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Keberadaan selebritis dalam kehidupan masyarakat ini bahkan menjadi sebuah menu utama dalam lingkup obrolan antar sesama masyarakat. Ini tidak bisa dihindari, fenomena artis selalu disuguhkan setiap hari terutama melalui media elektronik yang menyiarkannya dalam berbagai macam acara infotainment. Tanpa kenal lelah seolah berburu mendapatkan berita terekslusif, tayangan infotainment disuguhkan dihadapan para pemirsa dimulai dari bangun tidur hingga malam hari misalnya, Insert, Kiss, Silet dan lain-lain.

Permasalahan yang sedang dihadapi oleh para artis disuguhkan dengan gamblang, seolah tidak ada batas mana wilayah pribadi dan mana wilayah publik. Saking serunya tayangan infotainment ini, masyarakat seolah merasa kenal secara ‘dekat’ dengan para artis tersebut, masyarakat semakin ‘pintar’ dan ‘tahu’ apa yang sedang dirasakan oleh artis tersebut. Sehingga tidak jarang obrolan (terutama di kalangan ibu-ibu rumah tangga) berkisar mengenai gosip-gosip tentang artis, baik tentang perkawinan, perceraian, perselingkuhan dan lain-lainnya. Semua dibahas tuntas oleh mereka dan saling melengkapi cerita. Sempat kami membuat survey sebagai sample sebelum kami membuat tulisan ini mengenai bahan obrolan mereka ditengah arisan ibu-ibu yang kebetulan kegiatannya berlangsung di rumah saya. Pertanyaan yang diajukannya singkat saja, pertama; Apa gosip yang paling enak diobrolkan?, kedua; Apa alasannya? Hasilnya adalah dari 19 ibu-ibu yang hadir seluruhnya mengatakan yang paling enak untuk diobrolkan adalah gosip tentang artis. Untuk alasannya lebih beragam namun sebagian besar sepakat mengatakan “daripada ngomongin tetangga sendiri mending ngegosipin artis, khan ga dosa!”

Menarik temuan awal yang saya coba lakukan untuk mengantarkan tulisan ini. Artinya bahwa fenomena kehidupan artis ini menjadi sebuah obrolan keseharian yang seolah mereka atau para selebrita tersebut adalah anggota keluarga mereka. Bahkan bisa jadi mereka lebih mengenal nama anggota keluarga Maia dan Dhani yang terdiri dari Al, El, dan Dul dibandingkan dengan nama anak-anak dari tetangga belakang mereka.

Tayangan tentang selebritis ini seolah tidak memberi kesempatan para selebrita untuk memiliki wilayah pribadi. Para pekerja infotainment saling berlomba untuk memburu berita tentang para artis demi mendapatkan berita terbaik dan terdepan dan demi untuk memuaskan para pemirsanya. Wajar jika seorang presenter Tamara Geraldine pernah berucap bahwa Infotainment mencari berita sampai ke ‘ranjang’. Itu adalah ungkapan kekesalan darinya, meski ia juga adalah seorang presenter gossip, sesungguhnya ia tidak menyukainya. Oleh karenanya dalam membawakan acara Kiss bersama dengan Edwin, ia tidak ingin terjebak membawakan acaranya seolah menggosipi rekan sejawatnya sesama artis. Mereka memandunya dengan gaya yang berbeda dan cenderung jenaka.

Dari sejumlah peristiwa selebritis yang dihadirkan ditengah masyarakat melalui media TV ini terutama dalam bentuk tayangan yang dihadirkan dalam infotainment adalah seutuhnya (kalau boleh menyebut sebenar-benarnya?!) tentang kehidupan mereka sehari-hari , tentang diri mereka sehari-hari dan tentang sekelumit cerita yang mengharubirukan pemirsa atas konflik yang sedang dihadapinya. Seakan semua ditelanjangi demi untuk memuaskan dahaga para pemirsa atas selebritis idolanya. Untuk itu kita belum atau tidak dapat menghindari keberpengaruhan yang terinternalisasi dalam konstruksi pemikiran masyarakat atas segala tingkah polah para selebritis tersebut. Semua berwacana, semua berpro-kontra atas peristiwa-peristiwa komunikasi yang terjadi di lingkungan artis tersebut. Fenomena atas realita sosial inilah yang selalu disuguhkan sehari-hari dihadapan para pemirsa televisi. Pertanyaannya adalah akankah terjadi konstruksi atas realitas secara sosial dalam masyarakat ?

Berbicara tentang artis tidak terlepas dari kontribusi media massa yang mengangkatnya. Popularitas selebritis tidak bisa dipungkiri melalui kendaraan media massa yang meliputnya. Akhirnya semua tersaji dan terpampang jelas semua perilaku atau tingkah polahnya di media massa dan ditonton bahkan dinikmati oleh masyarakat dalam keseharian mereka. Peristiwa di atas adalah beberapa contoh kasus yang menarik perhatian masyarakat. Dalam kaitannya dengan tulisan ini, mari kita lihat dalam kajian konstruksi sosial.

Dewi Persik dan Julia Perez adalah sebagai sosok realitas yang ada di masyarakat saat ini. Dengan dalih untuk menciptakan kreativitas, mereka mengekspresikannya dalam olah seni vokal yang diikuti oleh olah gerak bagian pinggul yang mereka klaim sebagai hasil ’temuan’ mereka. Masih teringat dalam benak kita tentang goyang ngebor-nya Inul, mereka pun berlomba untuk memikat perhatian para penggemarnya dengan menciptakan Positioning-Differensiasi-Brand. Dewi Persik dengan Goyang Gergajinya dan Julia Perez dengan Goyang Blender-nya. Temuan inilah yang menjadi nilai jual mereka. Bahkan pengakuan Julia Perez istilah Goyang Blender itu ia dapatkan di kamar kecil tatkala 1 jam sebelum penampilannya di TPI (kala itu). Itu adalah tahapan eksternalisasi yang sedang mereka bangun.

Sumber: http://www.Kapanlagi.com

Your Comments

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s