NEW MEDIA “FACEBOOK” SEBAGAI GERAKAN SOSIAL BARU

Vitalis Noresta M . 362011044 . Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi . UKSW Salatiga

 

Di era modern ini  kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang pesat, komunikasi politik pun ikut mengalami perkembangan. Tidak hanya secara konvensional dengan cara tatap muka secara langsung, tetapi bisa juga mengandalkan media internet. Salah satu cara adalah cyber politic, cyber politic di Indonesia mengalami perkembangan beberapa tahun terakhir. Facebook termasuk dalam kategori situs jejaring sosial seperti Friendster, MySpace, Multiply, Yuwie yang menyediakan media bagi para penggunanya untuk saling bertukar informasi dan berinteraksi.

 Nama Facebook sendiri diinspirasi oleh Zuckerberg dari sebuah istilah di kalangan kampus seantero AS untuk saling mengenal antar sesama civitas akademiknya. Awalnya para penggunanya hanya dikhususkan bagi para mahasiswa di kampus Harvard University. Tanggal 11 September 2006, Facebook membuat satu langkah penting dengan mengizinkan aksesnya ke seluruh netter yang mempunyai alamat email valid, namun, dengan pembatasan usia.

Jaringan internet terutama facebook berpengaruh besar bagi akses publik atas dokumen pemerintah, bahkan pada taktik dan isi kampanye politik. Jaringan sosial internet bersifat horisontal dari New Media berpotensi besar menjadi alat mobilisasi politik bagi aneka kelompok kepentingan, baik bagi aktivis, komunitas bisnis, ormas, parpol dan pejabat pemerintah. Harold Laswell dikutip oleh Maswadi Rauf dan Mappa NAsrun (1993 : 12) menjelaskan hubungan erat antara dunia politik dengan dunia komunikasi. Komunikasi dalam politik berfungsi sebagai penghubung antara pemerintah dengan khalayak dalam penyampaian berbagai kebijakan yang dikeluarkan, atau sebaliknya komunikasi digunakan oleh masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan kepentingannya kepada pemerintah.

 Facebook tak hanya digunakan sebatas pada media interaksi, namun  juga kebutuhan untuk menunjang pemenuhan tujuan politik penggunanya. Facebook dijadikan sebagai saluran/alat bagi terciptanya proses komunikasi politik. Melalui facebook, pemerintah dapat mengirim pesan pada khalayak atau sebaliknya khalayak yang mengirim kritik atau tanggapan atas kebijakan pemerintah.

Salah satu contohnya, Facebook mengambil peran dalam memberikan dukungan terhadap Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah, pimpinan nonaktif KPK yang pernah mendekam di tahanan kepolisian. Dukungan dari jejaring sosial Facebook menembus 500 ribu dari target 1 juta dengan rata-rata 100 orang tiap menitnya.  Facebook lebih berarti dalam mencapai ruang public dibandingkan segala hal yang pernah ada sebelumnya. Facebook telah berhasil dijadikan sebagai media sosial baru untuk menggalang simpati dan dukungan dalam menekan pemerintah untuk mengambil tindakan nyata dalam kasus kriminalisasi KPK. Mereka terpanggil memberi dukungan karena mereka yakin bahwa Bibit dan Chandra adalah korban kriminalisasi.

Hal ini membuktikan bahwa pemanfaatan Facebook cukup efektif untuk gerakan sosial dan memiliki potensi yang besar sebagai media komunikasi politik interaktif dari pelbagai kekuatan masyarakat sipil yang saling berbagi informasi dan menjadi kekuatan sosial yang mampu memberikan tekanan terhadap kebijakan pemerintah untuk penegakan hukum di Indonesia.

Sumber :

http://pepyteknokra.wordpress.com/2010/06/10/facebook-sebagai-saluran-komunikasi-politik/

Ibrahim,Idi Subandy.2011.Kritik Budaya Komunikasi.Yogyakarta.JalaSutra

 

 

Your Comments

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s