Diet Media (Televisi)

Stefanie Threesia Permata – 362011004

Dewasa ini, banyak orang mengeluhkan kehidupan di tengah sesaknya dunia media massa. Orang tua khawatir dengan perilaku anaknya yang banyak menghabiskan waktu dengan menonton tv, para pemuka agama yang khawatir akan gaya hidup hedonistik dan serba instan yang disajikan di berbagai media massa bagi para generasi penerus bangsa, para pengajar yang merasa apa yang telah diberikan di lembaga pendidikan tidak membekas karena para muridnya lebih senang berguru pada media massa, dan masih banyak lagi.

Media massa memang sudah menyatu dalam kehidupan manusia, khususnya televisi. Berita atau program yang disajikan oleh media massa dalam praktik yang sebenarnya adalah hanya memanjakan selera khalayak demi manfaat komersial semata, sehingga melahirkan berbagai akibat yang mengundang kekhawatiran, ketakutan, bahkan sikap antisipasi terhadap media massa. Sikap atau praktik-praktik antisipasi terhadap berbagai media khususnya pada televisi, sudah banyak berkembang di Indonesia. Salah satunya adalah gerakan diet media, lebih tepatnya lagi diet televisi.

Mendengar kata diet media, sekilas mungkin terdengar sedikit aneh. Selama ini, kata diet sudah terkonsep dalam pikiran kita sebagai salah satu bentuk upaya untuk melangsingkan tubuh atau bisa juga karena alasan kesehatan demi kebaikan bagi yang menjalankannya. Tidak berbeda jauh dari kegunaan diet yang sebenarnya, diet media bertujuan kepada para masyarakat agar lebih produktif mencari informasi, lebih selektif terhadap informasi, dan punya kesempatan luas dalam bersosialisasi di mana tujuan-tujuan tersebut berguna demi kebaikan para penggunanya.

Menurut Yosal Irianta dalam bukunya yang berjudul Literasi Media, mengonsumsi media itu diibaratkan layaknya kita mengonsumsi makanan. Ada yang sekedar menghilangkan lapar, meski kandungan gizinya tidak baik. Ada yang kita butuhkan karena kandungan gizinya yang kita perlukan. Ada juga yang membahayakan bagi sebagian orang sebab dapat meningkatkan kadar kolesterol atau membuat kandungan asam urat meningkat. Karena itu, ada makanan yang kita harus hindari, ada yang kita konsumsi dalam takaran tertentu, dan ada pula yang kita konsumsi karena hanya kebutuhan. Sama halnya dengan mengonsumsi media. Ada yang bisa kita konsumsi setiap hari karena keperluan, ada yang dapat membahayakan diri kita bila dikonsumsi sepanjang waktu, ada pula yang hanya perlu sesekali dikonsumsi untuk menjaga keseimbangan informasi. (Yosal,2009:83)

Berdasarkan pernyataan Yosal Irianta, dari seluruh konten-konten yang terdapat dalam media, kita harus selektif dalam mengonsumsinya. Dengan begitu, pola konsumsi kita bersifat fungsional. Jika merasa kurang, maka perlu ditambahi. Namun jika terlalu banyak, maka isi nya harus dikurangi. Ada kalanya kita harus melakukan diet media karena kelebihan mengonsumsi isi media, terlebih lagi jika is media tersebut tidak memberikan manfaat bagi kita.

Berbicara mengonsumsi sebuah media, televisi merupakan salah satu media audio-visual yang paling banyak memberikan pengaruh terhadap masyarakat. Hampir setiap hari manusia di seluruh dunia menonton televisi. Banyak masyarakat khususnya anak-anak kecanduan dengan televisi hingga media yang satu ini bahkan dapat membentuk atau menciptakan karakter baru penontonnya karena program-program yang disiarkan. Jika bermanfaat dan memberi pengaruh yang baik, mungkin itu tidak akan menjadi suatu problema. Namun, bagaimana jika pengaruh yang diberikan adalah pengaruh yang buruk? Maka tidak heran, jika ada muncul sebuah gagasan untuk melakukan diet televisi. Gerakan ini pertama kali digagas oleh Teresa Orange dan Louise O’Flynn (Pengarang buku Media Diet for Kids).

Sasaran dari diet televisi biasanya adalah anak-anak. Mengapa? Karena menurut Kris Winarti dalam seminar Public Hearing bersama KPID, sebanyak 70% prosentase anak-anak mampu menyerap apa yang dilihat dan didengarnya dari program-program televisi yang tidak menutup kemungkinan dari apa yang diserapnya dapat diwujudkan ke dalam realitas sebenarnya. Selain itu juga banyak program televisi yang tidak menyehatkan bagi anak-anak, baik sebagai asupan nutrisi pengetahuan maupun nutrisi psikis. Secara tidak langsung, teori kultivasi (penanaman) bekerja di sini. Dalam bukunya yang berjudul Literasi Media, Yosal menyatakan bahwa fakta dalam dunia pertelevisian Indonesia menunjukkan bahwa banyak tayangan yang tidak patut ditonton oleh kategorinya sendiri. Banyak faktor-faktor negatif yang ditayangkan dalam kebanyakan program tersebut. Semisal, faktor kekerasan, mistik, pornografi, dan perilaku negatif (sikap kurang ajar terhadap orang tua atau guru).

Bagaimana dengan cara melakukan diet televisi itu sendiri? Menurut Teresa Orange dan Louise O’Flynn, hal pertama yang harus dilakukan adalah membatasi jadwal menonton televisi itu sendiri. Semisal pada anak, orang tua harus membatasi setiap harinya maksimal 2 jam per hari. Dengan maksud, agar anak-anak dapat bersosialisasi dengan teman-temannya serta dapat melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat daripada hanya menonton televisi. Kedua, memilah-milah program tv yang dianggap bermanfaat. Ketiga, mencari alternatif kegiatan lain, seperti membaca buku, mengajak anak berbincang-bincang diluar, dll. (Yosal,2009:85)

Pada dasarnya, diet media khususnya media televisi dilakukan manusia sebagai salah satu bentuk upaya dalam memfilterisasi sajian-sajian program agar khalayak yang mengonsumsi media memiliki porsi isi yang pas, sehingga dapat berimbang pemenuhan kebutuhan dan pengetahuannya.

Sumber : Iriantara,Yosal. 2009. Literasi Media (Apa,Mengapa, dan Bagaimana). Bandung : Refika.

Your Comments

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s