Dampak Penggunaan Media Sosial Dalam Pergolakan Politik di Mesir

Ridwan Nur Matien / 362011075 / Program Studi Ilmu Komunikasi – FISKOM UKSW

Di era informasi (information age) sekarang, masyarakat dapat dengan bebas menyuarakan atau menulis apapun di berbagai media online berbasis jejaring sosial atau blog, dimana hal itu akan senantiasa dibaca serta diakses oleh semua orang. Hal ini menjadikan media sosial menjadi salah satu media yang sangat penting, cepat, dan kuat untuk menciptakan gerakan massal.

Seperti dalam revolusi politik yang terjadi di Mesir pada 2011 lalu, media sosial berperan penting sebagai pembentuk opini publik, katalisator pergerakan massa, dan pembentukan komunitas-komunitas yang menginginkan perubahan, yang disatukan oleh kemarahan yang sama terhadap rezim Hosni Mubarak. Pembentukan komunitas ini sesungguhnya adalah keunggulan utama yang dimiliki media sosial, yang tidak dimiliki oleh media broadcast konvensional (TV, radio, media cetak). Di dalam komunitas yang dibentuk media sosial inilah ide perubahan di Mesir mengalami proses pematangan.

Masyarakat Mesir yang menginginkan perubahan di negerinya dan melebur dalam gerakan melengserkan rezim Mubarak, baik yang turun ke jalan maupun tidak, adalah sebuah “komunitas besar” yang memiliki tujuan yang sama dan terkoneksi satu sama lain di dalam berbagai media sosial yang ada (Blog, Facebook, Twitter, SMS, BBM, dll.). Melalui beragam bentuk komunikasi dan interaksi di media sosial, mereka menyatukan suara hingga menjadi gerakan politik massif.

Seperti yang telah dilakukan seorang warga Mesir bernama Wael Ghonim yang membuat akun Facebook dengan nama “We are all Khaled Said” pada Juni 2010. Tujuan Ghonim membuat akun ini adalah untuk mengecam pembunuhan Khaled Said, seorang pemuda yang dipukuli polisi Mesir hingga kemudian meninggal. Di dalam akun ini, informasi masalah sosial dan ide-ide yang anti kediktatoran dipersatukan melalui beragam bentuk aktivitas komunikasi di dalamnya mulai dari chat, wall, diskusi, komentar, dan pertukaran tulisan-foto-video antar anggota.  Dampak yang ditimbulkan dari akun ini ternyata luar biasa, akun ini akhirnya menjadi trigger pergolakan politik menentang rezim Mubarak di Mesir, sementara pemerintahan Mesir menganggap remeh.

Peran media sosial menjadi lebih krusial lagi ketika “komunitas besar” gerakan politik sudah begitu matang dan melakukan aksi turun ke jalan. Dalam tahap ini media sosial menjadi alat koordinasi gerakan yang sangat murah, mudah, dan efektif. Dengan Facebook atau Twitter, para koordinator gerakan “komunitas besar” ini dapat mengirimkan segudang pesan yang bertujuan politik dan mengorganisir protes-protes internal yang berdampak pada terjadinya keributan di dalam negeri.  Tweet atau wall Facebook itu sendiri dapat dibaca oleh jutaan pengguna media sosial lainnya di seluruh dunia dalam waktu cukup singkat, sehingga revolusi Mesir mendapat sorotan masyarakat internasional.

Namun otoritas rezim Mubarak kemudian menutup akses Internet dan komunikasi di Mesir menjelang kejatuhannya, hal ini lantas mengundang kreativitas dan inovasi baru. Para ahli teknik dari Google, Twitter, dan SayNow bekerja keras membangun layanan speak-to-tweet (suara ke tweet) agar para demonstran tetap bisa memberikan informasi keluar Mesir. Layanan ini memungkinkan para penggunanya mengirimkan tweet dengan menggunakan koneksi suara. Siapa saja bisa mengirimkan tweet dengan meninggalkan voicemail pada satu dari tiga nomor panggilan internasional: +16504194196, +390662207294, atau +97316199855. Tweet yang dikirimkan dengan menggunakan layanan ini akan secara otomatis mengikutkan simbol hashtag #egypt.

Untuk pertama kali dalam sejarah Timur Tengah, revolusi politik digerakkan oleh kekuatan horizontal dimana media sosial berperan cukup signifikan. Tradisi yang telah berlangsung puluhan/ratusan tahun adalah seorang pemimpin diktator ditumbangkan calon diktator berikutnya. Tapi di Mesir, perubahan fundamental telah terjadi. Mubarak dilengserkan, bukan oleh pemimpin-pemimpin hebat sekaliber Khadafi atau Khomeini, tapi oleh rakyat dengan katalis New Media. Ini merupakan sebuah bukti bahwa penggunaan media sosial berdampak cukup besar dalam sebuah gerakan-gerakan untuk melakukan perubahan dalam suatu masyarakat, dengan cara saling mempengaruhi. Revolusi Mesir memberikan pelajaran berharga bagi diktator-diktator, rezim-rezim, dan pemerintah tiran; bahwa Facebook dan Twitter kini menjadi “musuh paling berbahaya” mereka.

Daftar Pustaka:

Your Comments

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s