Anak Belajar (ber-)Bahasa Gaul Melalui Media Jejaring Sosial

WIDYA AYU PRAMUDITA / 362011073 Program Studi Ilmu Komunikasi – FISKOM UKSW

Media jejaring sosial ( twitter, facebook, google+), blog, forum dan lain-lain hadir sebagai pengaruh dasar dari perkembangan iptek yang berbentuk internet. Namun dari sekian banyak media sosial di atas,yang paling terkenal dan paling banyak penggunaannya adalah situs jejaring sosial seperti twitter dan facebook. Produk-produk tersebut justru digandrungi atau digemari oleh semua kalangan termasuk anak-anak. Seakan jejaring sosial tersebut sudah menjadi candu, menjadi suatu keharusan bagi anak-anak untuk memiliki dan menggunakannya. Karena kalau tidak memiliki dan menggunakan akan dianggap kurang pergaulan, cupu dan bahkan akan dikucilkan oleh komunitasnya.

Jejaring sosial sendiri merupakan sebutan lain terhadap web community. Jejaring sosial adalah tempat untuk para netter berkolaborasi dengan netter lainnya. Jejaring sosial yang saya maksud di sini adalah penggunaan twitter dan facebook di kalangan anak-anak. Twitter merupakan salah satu layanan social networking dan saat ini merupakan layanan sangat terkenal terutama di Amerika Serikat dan Eropa. Twitter ini berfungsi semacam portal yang berisi daftar kegiatan sehari-hari dari para anggotanya. Sementara facebook  adalah website jaringan sosial dimana para pengguna dapat bergabung dalam komunitas seperti kota, kerja, sekolah, dan daerah untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan orang lain. Orang juga dapat menambahkan teman-teman mereka, mengirim pesan, dan memperbarui profil pribadi agar orang lain dapat melihat tentang dirinya.

Jejaring sosial tentu memiliki dampak yang cukup kuat bagi anak-anak, baik itu negatif atau positif. Positif tentu dapat menambah teman,pergaulan semakin luas. Dampak negatif seperti malas belajar, anak-anak menjadi acuh terhadap lingkungan sekitar dan yang paling terlihat adalah penggunaan bahasa gaul yang kini semakin beredar luas serta telah melenceng jauh dari ejaan bahasa Indonesia yang benar. Sebenarnya bahasa gaul atau yang kita kenal sekarang ini dengan sebutan bahasa alay digunakan untuk merahasiakan isi obrolan atau pesan oleh seseorang atau dalam suatu komunitas tertentu biasanya bisa berisi perpaduan antara huruf, gambar  dan simbol, tetapi lama-lama sering digunakan di luar komunitas mereka. Karena tatanan dalam bahasa alay bersifat manasuka, tidak ada sistem dan ketentuan yang jelas, unik, serta ringkas sehingga lebih disukai anak-anak dan semakin marak penggunaannya dalam jejaring sosial. Awalnya hanya menyingkat penulisannya saja, namun lama kelamaan dicampuradukkan dengan angka, kemudian penulisan dibuat besar kecil. Akibat keseringan belajar bahasa gaul dengan media sosial, anak-anak malah lebih mengerti bahasa-bahasa seperti “ciyus”, miapah”, “enelan”, “macacih”, “cakit”. Contoh lain adalah “kamu di mana “ menjadi “ k4muuh d3 m4na” , “aku dinda salam kenal ya” menjadi “ AquWh D13ndA lAm kNal eeaa” dan lain-lain.

Meskipun diakui norak dan dianggap aneh, entah mengapa anak-anak masih saja menggunakan bahasa alay ini dalam pergaulan sehari-mereka, padahal mereka cenderung menolak jika dikatakan alay. Anak-anak mengaggap bahwa bahasa alay ini merupakan sarana komunikasi yang “up to date” atau sesuai dengan selera mereka. Sebenarnya menggunakan bahasa alay secara terus menerus  membuat anak-anak menjadi malas untuk mempelajari bahasa yang baik dan benar, malas untuk bertutur kata sesuai dengan tatanan yang seharusnya. Jika ini diteruskan tentu akan membawa dampak yang tidak baik bagi bahasa Indonesia, bisa saja posisi bahasa Indonesia mulai tergeser dan mulai luntur akibat anak-anak lebih senang menggunakan bahasa gaul.

Sebenarnya cukup baik bila anak-anak juga dikenalkan pada jejaring sosial dengan segala bentuk dan isinya, kemudian dampak apa saja yang ada akibat penggunaan jejaring sosial yang yang berlebihan seperti kemunculan bahasa-bahasa alay. Tidak salah juga mengenalkan teknologi pada anak-anak, karena dari situ mereka juga dapat belajar, tetapi dalam penggunaannya lebih berhati-hati agar anak-anak tidak terlalu terpengaruh. Artinya perlu ada batasan yang jelas bagi anak-anak dalam penggunaan teknologi, internet dan juga jejaring sosial sebagai media pembelajaran agar mereka tidak salah arah dalam menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi, jangan sampai anak-anak lebih senang menggunakan bahasa gaul ketimbang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam kegiatan interaksi sehari-hari.

Daftar pustaka :

file:///F:/tugass/PTK/bahan%20untuk%20PTK%20tts/Media%20Informasi%20dan%20Teknologi%20%20Dampak%20Positif%20dan%20Negatif%20Jejaring%20Sosial%20Bagi%20A

file:///F:/tugass/PTK/bahan%20untuk%20PTK%20tts/Candu%20Media%20Sosial,%20Wajarkah%20%20%20%20Seni%20Berpikir.html

http://www.stiks-tarakanita.ac.id/files/Tarakanita%20News%20No.%202/Opini/36%20Bahasa%20Pergaulan%20dan%20pengaruhnya%20terhadap%20kemampuan.pdf

Your Comments

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s