Mengapa Teks Berpengaruh?

Gambar

Carina Mirawaty Bone/Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi UKSW/Progdi Komunikasi/362012035

 

“Change your thoughts and you change your world.”

- Norman Vincent Peale

Banyak orang yang tidak terlalu suka membaca namun dalam kondisi apapun setiap manusia pasti akan selalu membaca.  Namun bacaan yang dibaca tentu memiliki dampak yang dapat dirasakan secara sadar maupun tidak sadar.  Contohnya ketika kita membaca puisi cinta, perasaan kita akan dicampur-aduk dengan suka, rasa pilu dan segala hal yang dituliskan dalam puisi tersebut.  Atau ketika kita sedang merasa tidak bersemangat, motivasi kita dapat kembali dipacu dengan membaca kata-kata mutiara.  Mengapa hal ini bisa terjadi?

Perubahan situasi yang kita alami ini terjadi karena adanya keberhasilan si penulis memproduksi realitas dalam komunikasi yang dilakukannya.  Penulis berhasil menanamkan suatu makna dalam pikiran si pembaca.  Dalam mengkonstruksikan realitas tersebut, si penulis mendaya-gunakan bahasa, mengatur dan menggiring kepada suatu fakta-, dan menyesuaikan waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan.  Dalam sebuah bacaan, gaya bahasa dan penggunaan bahasa memiliki peran penting untuk menyampaikan informasi.  Keberadaan bahasa ini tidak lagi sebagai alat semata untuk menkonstruksikan realitas, melainkan bersama-sama fungsi kultivasi dan fungsi agenda setting, bahasa bisa menentukan gambaran (citra) mengenai suatu realitas yang akan muncul di benak khalayak.  Terdapat berbagai cara komunikator (penulis) memanfaatkan bahasa untuk mempengaruhi realitas: mengembangkan kata-kata baru beserta makna asosiatifnya; memperluas makna dari istilah-istilah yang ada; mengganti makna lama sebuah istilah dengan makna baru; memantapkan konvensi makna yang telah ada dalam suatu sistem bahasa (DeFleur dan Ball-Rokeach, 1989: 265-269).

Karena persoalan makna itulah penggunaan bahasa terhadap proses konstruksi realitas berikut wacana yang dihasilkannya beserta makna dan citranya.  Penggunaan bahasa tertentu berimplikasi pada munculnya makna dan citra tertentu.  Mari kita baca sepenggal teks puisi berikut.

“Siapakah aku?

Aku tak tahu pasti

 

Siapakah aku?

Aku ragu mengatakannya

 

Dalam kebingunganku biarlah semua berjalan seturut kehendak-Mu”

(Siapakah Aku Ini? “Amare Non Est Peccatum” Y.F. Nata: 2008)

 

Dari penggalan tersebut kita dapat mengerti realitas yang ingin disampaikan adalah adanya kebingungan dalam diri si penulis mengenai eksistensi dirinya.  Pilihan kata, susunan kata, dan cara menyusun kalimat yang tertentu dalam melakukan konstruksi realitas dapat menentukan makna dan citra tertentu tentang realitas.  Bahkan dalam banyak kasus bahasa bukan cuma sebagai alat mengkonstruksikan realitas, sekaligus dapat menciptakan realitas itu sendiri.  Jadi tentunya ada suatu hubungan kuat antara bahasa dan realitas.  Untuk membuat sebuah wacana tentu saja para konstuktor itu tidaklah sembarangan menggunakan sebuah tanda bahasa, melainkan telah mempertimbangkannya secara matang, mengingat setiap tanda bahasa memiliki makna.

 

Yang kemudian hasil dari rekonstruksi realitas ini dapat berhasil tergantung dari faktor internal receiver/pembaca.  Bagi receiver tanda ini berfungsi menunjukkan pusat perhatian, memberi ciri, membuat dirinya sadar akan permasalahan, memberi nilai (valuing) positif atau negatif, mempengaruhi khalayak untuk menjaga atau mengubah status-quo, untuk mengendalikan suatu kegiatan atau fungsi dan untuk mencapai suatu tujuan yang ingin dicapainya dengan memaknai kata-kata tersebut.  Contoh:

“Fairy tales are more than true; not because they tell us that dragons exist, but because they tell us that dragons can be beaten.”

― G.K. Chesterton

Ketika membaca kutipan ini individu akan menyadari bahwa adanya atensi penulis mengenai permasalahan, yang kemudian individu akan memberi nilai terhadap kutipan ini, kita anggap saja si pembaca menerima baik kutipan yang mengatakan “dragons can be beaten”.  Dragons atau Naga merupakan sebuah simbol negatif, itu sebabnya digambarkan oleh si penulis, bahwa Naga adalah masalah.  Jadi seberapapun besarnya masalah yang dihadapi tentu dapat tetap dikalahkan.  Dari sini si komunikan akan terpacu untuk mengubah status-quo yang dimilikinya untuk bergerak maju mencapai tujuannya.

Dari penjelasan yang sudah diuraikan diatas, penting diketahui bahwa ketika ingin membaca suatu wacana harus dipilih secara baik-baik.  Pilihlah sebuah wacana yang memiliki makna positif karena apa yang kita baca akan teringat dan memberikan dampak perubahan yang baik bagi pola pikir kita.

Sumber :

Hamad, Ibnu. 2010. Komunikasi Sebagai Wacana, Jakarta: La Tofi Enterprise

Nata, Yosephine Franciska Vina Lolita. 2008.  Amare Non Est Peccatum, Yogyakarta: Pustaka Anggrek

Your Comments

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s